>Antara HAKI dan Nasionalisme

>Gema HAKI saat ini begeitu hangat dibenak mereka yang telah banyak berpartisipasi terutama dalam pengembangan pendidikan dan tekonolgi saat ini. Banyak karya yang mereka hasilkan kini dipertaruhkan di meja hijau demi mendapatkan pengakuan HAKI. Tanggal 29 Juli 2003 merupakan hari yang paling berharga bagi mereka para pecinta HAKI. Karena pemerintah dengan kekuatan hukumnya telah menunjukkan dukungannya dengan disahkannya UU No. 19/2002 tentang Hak Cipta, oleh Menteri Kehakiman dan HAM, Yusril Ihza Mahedra. Semenjak keluarnya UU tersebut banyak usaha yang selama ini mengambil untung dari kiat pembajakan tersebut merugi. Banyak yang berbahagia, banyak pula yang kehilangan pencaharian akibat UU tersebut. Bagi seniman, dan pencipta ini merupakan kemerdekaan. Namun, bagi mereka pedagang kaki lima yang biasa disebut PKL, pedagang pinggir toko, dan sebagainya banyak mengalami kerugian.

Disatu sisi HAKI menyebabakan krisis ekonomi menjadi bertambah kompleks. Karena mereka tidak hanya berpikir untuk menjual tapi juga diajak untuk mempertanyakan kembali barang dagangannya. Banyak toko-toko penjual kaset dan vcd bajakan kini di razia. Warnet pun tidak luput dari hal ini, karena Indonesia sendiri terkenal sebagai negara dengan pembajakan terbesar di dunia, menyaingi Cina, mulai dari musik, software, dan bahkan hardware.

Pernah sesekali penulis berkunjung ke sebuah lokasi pembelajaran internet (red: warnet) untuk sekedar browsing. Ternyata disana masih juga ada musik yang dibajak. Namun herannya tidak satupun dari semua musik itu yang bernuansa nasional, semua musik yang dibajak adalah musik luar negeri. Kalau dipikir-pikir ada benarnya juga, cinta produk Indonesia dengan membeli produk yang asli. Warnet itu sudah benar-benar menunjukkan bahwa dia cinta Indonesia. Tapi disisi lain, melihat kondisi warnet yang hanya menampilkan lagu-lagu barat dalam setiap harinya akan bisa memberi pengaruh yang kurang baik pada perkembangan nasionalisme orang-orang kita yang juga belajar di warnet tersebut. Ada kecenderungan kebiasaan mendengar lagu luar daripada lagu dalam negeri akan menyebabkan mereka lebih terbiasa mendengarkan lagu-lagu tersebut. Ini berpengaruh pada rasa nasionalisme, mereka jadi lebih suka mendengarkan lagu luar daripada lagu dalam negeri. Ini juga akan berdampak pada menurunnya minat rakyat untuk membeli produk lokal, dikarenakan kebiasaan ini. Kalau dipikir-pikir hal ini justru tidak menjadikan nasionalisme bangsa kita jadi lebih kuat, sebaliknya menjadikannya nasionalisme hanyalah wacana orang-orang atas saja (red: ekonomi mapan) yang benar-
benar bisa menjunjung tinggi HAKI.

Mungkin diperlukan pembahasan lebih jauh, mengenai siap atau tidaknya bangsa kita saat ini untuk menerima keberadaan HAKI. Dari kabar terakhir yang penulis ketahui, bahwa Cina belum menginginkan adanya HAKI di negara nya dikarenakan masih banyaknya rakyat Cina yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Semoga ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita. Ini hanyalah sekedar salah satu pandangan yang penulis dapati sesaat memikirkan mengenai keberadaan HAKI di Indonesia saat ini.

Referensi :
Rahmani T.Y. 2003. HaKI dan Intervensi Negara. http://www.sains.org/haki/. Diakses pada 12 Februari 2008.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s